Waingapu - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Menteri PPPA RI) I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Sumba Timur berkesempatan hadir dalam kegiatan rembuk stunting online yang dilaksanakan oleh Bappeda dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur.

Turut hadir mendampingi Menteri PPPA RI, Wakil Gubernur Provinsi NTT, Drs. Josef Nai Soi, MM, Bupati Sumba Timur Drs. Gidion Mbilijora, M.Si, Wakil Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali, Para Bupati Sedaratan Sumba bersama Forkopimda serta para Deputi lingkup Kementerian PPPA RI kamis (2/7/2020) Di Gedung Nasional Umbu Tipuk Marisi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Menteri PPPA RI) I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga Dalam sambutannya mengatakan bahwa Stunting di Nusa Tenggara Timur bukan hanya persoalan kesehatan dan kekurangan gizi tapi juga karena kesulitan mendapatkan akses fasilitas pelayanan kesehatan. Faktor kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan serta pola asuh yang salah turut menyumbang tingginya angka prevalensi stunting di Nusa Tenggara Timur. Oleh sebab itu perlu dilakukan langkah konkrit untuk mempercepat angka penurunan stunting di Indonesia.

Menurut I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga, Pemerintah telah menyusun strategi nasional dalam menurunkan angka stunting. Strateginya adalah dengan intervensi gizi spesifik atau langsung menyasar anak dalam 1000 HPK. Upaya yang dilakukan dengan pemberian obat atau makanan bagi Ibu hamil atau bayi berusia 0-23 bulan serta intervensi gizi sensitif yang dilakukan melalui berbagai kegiatan disektor Kesehatan. Terdapat dua jenis intervensi yang harus dilakukan untuk mempercepat penurunan stunting yaitu Strategi intervensi gizi spesifik dengan kelompok sasaran diutamakan bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak 0-23 bulan, remaja putri dan wanita usia subur, serta anak usia  24-59 bulan dan strategi intervensi gizi sensitif dengan kelompok sasaran keluarga dan masyarakat umum. Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga dalam sambutannya menambahkan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Hal ini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak.

Menteri Bintang mengatakan, usaha yang dapat dilakukan untuk mempercepat penurunan stunting yaitu dengan memberikan kecukupan asupan makanan dan gizi, pemberian makan, perawatan dan pola asuh serta pengobatan infeksi/penyakit. Selain itu, dibutuhkan juga peningkatan akses pangan bergizi, peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak, peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan dan peningkatan penyediaan air bersih beserta sarana sanitasi.

Menteri PPPA RI berharap Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dapat melakukan upaya pencegahan melalui berbagai kegiatan berupa pemberian vitamin kepada remaja putri, promosi eksklusif, promosi makanan pendamping ASI dan pemberian suplemen gizi mikro melakukan penyuluhan asupan gizi yang benar kepada ibu-ibu hamil yang kurang gizi agar dapat menurun angka stunting di Sumba Timur.

Bupati Sumba Timur, Gidion Mbiliyora dalam sambutannya menyampaikan bahwa pada tahun 2013 di Sumba Timur ada kurang lebih 2500 anak dimana 51,3 persen mengalami stunting. Sementara itu, angka stunting di Sumba Timur mengalami penurunan padan 2018 menjadi 39,1 persen dan 25 persen pada 2019. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menargetkan angka stunting di Sumba Timur bisa dibawah 20 persen pada 2020 Untuk itu, pada hari ini kita semua berkumpul disini untuk bersama-sama merumuskan strategi yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut. Hari ini hadir semua camat dan kepala desa di Sumba Timur terutama desa dengan angka stunting yang tinggi. Seperti yang diketahui, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mencatatkan provinsi dengan angka stunting tertinggi di Indonesia. Oleh karena itu, NTT membutuhkan edukasi ekstra dan nutrisi sejak masa kehamilan. Pemerintah provinsi NTT telah melakukan berbagai intervensi program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur, Josef Nae soi menekankan selain kesehatan ada faktor lain yang juga menjadi penyebab terjadinya stunting yakni fenomena sosial-budaya. “Pernikahan usia dini, hamil di luar pernikahan sehingga kehamilannya disembunyikan karena malu, dan kehamilan yang tidak diketahui karena pengetahuan tentang fungsi reproduksi yang minim menjadi penyebabnya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018, proporsi gizi buruk dan gizi kurang pada balita sebesar 29,5 persen dan proporsi balita sangat pendek dan pendek sebesar 42,6 persen.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Menteri PPPA RI) I Gusti Ayu Bintang Darmawati Puspayoga pada kesempatan yang sama turut menyaksikan pemberian bantuan serbuk kelor kepada 133 ibu hamil KEK dan 203 balita dan bantuan PMT kepada 4668 balita dan 16.463 ibu hamil yang diserahkan secara simbolis oleh Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi kepada Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si.(dd)