Rehabilitasi dan Rekonstruksi

KUPANG, Timex - Provinsi NTT pada tahun anggaran 2012 nanti mendapat bantuan dana rehabilitasi dan rekonstruksi bencana sebesar Rp 88 miliar. Dana tersebut akan dibagi kepada sembilan kabupaten, yakni Kabupaten Belu, TTU, Kupang, Rote Ndao, Sumba Tengah, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur dan Ngada.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT, Tini Thadeus, kepada Timor Express, Jumat (30/12) kemarin, menjelaskan, bantuan yang diberikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut dikhususkan untuk perbaikan infrastruktur di sembilan kabupaten/kota.

"Perbaikan infrastruktur, misalnya jalan yang rusak akibat bencana, perbaikan jembatan dan lain-lain," kata Thadeus. Sementara itu, BPBD NTT juga mendapat alokasi sebanyak Rp 4,8 miliar untuk supervisi, pembinaan dan monitoring. Menurutnya, fokus pembangunannya ada di kabupaten/kota, sehingga sebagian besar anggaran dialokasikan untuk kabupaten/kota, bukan provinsi. Sebelumnya, sebut Thadeus, BNPB sudah memberikan bantuan Rp 30 miliar pada tahun anggaran 2011 untuk pengadaan 30 unit traktor besar, 40 kapal ikan dengan mesin 3 GT, delapan mesin giling gabah, 162 mesin giling jagung dan 3.000 ternak (kambing dan babi) untuk diserahkan ke 19 kabupaten/kota, kecuali Kota Kupang dan Sabu Raijua.

Untuk tahun 2012, kata Thadeus, tidak ada lagi pengadaan traktor. Namun, Pemerintah Provinsi NTT akan memperjuangkannya setelah menyampaikan laporan serah terima 30 unit traktor yang telah diserahterimakan pada 28 Desember 2011 lalu di Waingapu, Sumba Timur. Menurut Thadeus, total bantuan BNPB untuk Provinsi NTT pada tahun anggaran 2011 sebesar Rp 35 miliar. Untuk tahun 2012, jumlah ini naik menjadi Rp 88 miliar. "Ini sungguh perhatian yang luar biasa dari Kepala BNPB. Dia memberi perhatian lebih karena memang NTT rawan bencana, yakni sembilan bulan kekeringan dan hanya tiga bulan hujan," katanya. Terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, trend bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dia menyebutkan, jika tahun 2002 terdapat 190 bencana, pada 2005 terjadi 691 bencana dan 2010 2.232 bencana. Bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, kekeringan, tanah longsor, puting beliung dan gelombang pasang merupakan jenis bencana yang dominan di Indonesia. Ditambahkan, data bencana tahun 2002 sampai 2011 menunjukkan sekitar 89 persen dari total bencana di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi terjadi rata-rata hampir 70% dari total bencana di Indonesia. Perubahan iklim global, degradasi lingkungan, kemiskinan, dan bertambahnya jumlah penduduk makin memperbesar ancaman risiko bencana. Bencana tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang besar.

"Pada tahun 2011, bencana di Indonesia terjadi sekitar 1.598 kejadian bencana. Data ini masih sementara karena belum seluruhnya data di kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terkumpul," sebut Sutopo. Dia juga menyebutkan, jumlah orang meninggal dan hilang akibat bencana mencapai 834 orang. Mereka yang menderita dan mengungsi sebanyak 325.361 orang. Rumah rusak berat 15.166 unit, rusak sedang 3.302 unit dan rusak ringan 41.795 unit. Dari 1.598 kejadian bencana tersebut, sekitar 75 persen adalah bencana hidrometerologi. Sedangkan bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami dan gunung meletus masing-masing terjadi 11 kali (0,7 persen), 1 kali (0,06 persen) dan 4 kali (0,2 persen). Dampak yang ditimbulkan oleh gempa bumi yakni lima orang meninggal dan rumah rusak sebanyak 7.251 unit. Selain itu, jelas Sutopo, berdasarkan jumlah kejadian terbanyak, paling banyak adalah banjir (403 kejadian), kemudian kebakaran (355), dan puting beliung (284).

"Puting beliung merupakan fenomena kejadian yang terus meningkat secara tajam jumlah kejadiannya dalam 10 tahun terakhir. Hal ini sangat berkaitan dengan perubahan iklim global dan lingkungan," jelas Sutopo. Di samping itu, berdasarkan korban meninggal dan hilang, kecelakaan transportasi kapal mendominasi dibandingkan dengan bencana lain. Korban jiwa dari kecelakaan transportasi 372 orang meninggal, sedangkan tanah longsor 192 orang dan banjir 160 orang. Menurutnya, kecelakaan yang dimaksud bukan kecelakaan lalu lintas. Sedangkan berdasarkan jumlah orang mengungsi karena banjir mencapai 279.523 orang, erupsi gunungapi 9.699 orang, dan longsor 9.053 orang.

Dia juga menyebutkan, dibanding tahun 2010, jumlah kejadian dan korban serta kerugian yang ditimbulkan bencana lebih kecil. Pada tahun 2010, jumlah kejadian bencana mencapai 2.232 kejadian. Jumlah korban meninggal dan hilang mencapai 2.139 orang, menderita dan mengungsi sekitar 1,7 juta orang dan menimbulkan rumah rusak berat 52.401unit. Bencana banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai dan erupsi Gunung Merapi adalah bencana terbesar pada tahun 2010. (sam/vit)