• Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_1
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_2
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_3
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_4
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_5
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_6
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_7
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_8
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_9
1 2 3 4
Login Form



Penduduk

Kependudukan

Kondisi Demografi

Pertumbuhan penduduk yang terjadi di Kabupaten Sumba Timur merupakan konsekuensi dari tingkat kelahiran dan kematian yang terjadi di masyarakat. Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor perpindahan penduduk yang datang (migrasi masuk) maupun perpindahan penduduk ke luar daerah (migrasi keluar). Jumlah penduduk Kabupaten Sumba Timur mengalami perubahan dari tahun ke tahun, pada tahun 2018 jumlah penduduk Kabupaten Sumba Timur sebanyak 249.607 jiwa dan pada tahun 2020 berkurang menjadi 244.820 jiwa. Berdasarkan data jumlah penduduk, rata-rata pertumbuhan penduduk Kabupaten Sumba Timur meningkat 1-2%

Komposisi penduduk menurut kelompok umur dapat memberikan suatu ciri klasifikasi penggolongan penduduk pada aspek ekonomi yaitu penduduk produktif atau tidak produktif. Komposisi seperti ini dapat menggambarkan pola perilaku sosial ekonomi penduduk. Berdasarkan komposisi umur, penduduk dapat dibagi dalam 2 kategori yaitu kelompok umur (0-14 tahun dan 65 tahun atau lebih) dikategorikan sebagai penduduk yang tidak produktif, sedangkan kelompok umur (15-64 tahun) dikategorikan sebagai penduduk yang produktif. Penggolongan ini didasarkan pada kenyataan bahwa penduduk yang berusia 15- 64 tahun secara rasional merupakan kelompok yang secara ekonomi dianggap mampu melakukan  kegiatan yang produktif. Komposisi penduduk menurut kelompok disajikan dalam tabel berikut ini:

Persentase Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 1990, 2010, 2013 s/d 2020

Kelompok Umur

Tahun

1990

2010

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2020

0 – 14

37,72

37,16

38.02

36,83

35,39

36,62

28,83

28,72

32,68

15 – 64

57,28

58,15

57,10

58,71

60,17

58,42

65,35

65,52

61,72

65 +

5.0

4,69

4,88

4.46

4,44

4,96

5,82

5,76

5,60

Jumlah

100

100

100

100

100

100

100

100

100

Sumber: Sumba Timur Dalam Angka 2021

Berdasarkan komposisi penduduk menurut jenis kelamin pada tahun 2020 menunjukkan jumlah penduduk dengan jenis kelamin laki-laki lebih tinggi yaitu 125.967 jiwa dibandingkan penduduk dengan jenis kelamin perempuan sebesar 118.853 jiwa atau terjadi selisih sebesar 7.114 jiwa. Jika dibandingkan dengan tahun 2019 dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 132.321 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebesar 126.165 jiwa maka terjadi penurunan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebesar 6.354 jiwa dan penduduk dengan kelamin perempuan sebesar 7.312 jiwa. Struktur usia penduduk Kabupaten Sumba Timur dapat dikelompokkan dalam 16 kelompok usia yaitu dari usia 0-4 tahun sampai dengan usia >75 tahun. Berikut struktur usia penduduk Kabupaten Sumba Timur Tahun 2020.

Struktur Usia Penduduk Kabupaten Sumba Timur Tahun 2020

Kelompok Umur

Jenis Kelamin

Jumlah

 

Laki-Laki Perempuan

 

0-4

15.800

15.179

30.979

5-9

13.558

12.867

26.425

10-14

11.677

10.916

22.593

15-19

10.035

9.280

19.315

20-24

11.160

10.458

21.618

25-29

10.627

9.962

20.589

30-34

9.350

8.848

18.198

35-39

8.233

8.226

16.459

40-44

7.528

7.384

14.912

45-49

6.708

6.275

12.983

50-54

5.594

5.128

10.722

55-59

4.645

4.346

8.991

60-64

3.857

3.471

7.328

65-69

3.139

2.852

5.991

70-74

2.026

1.872

3.898

75+

2.030

1.789

3.819

 

125.967

118.853

244.820

Sumber: Sumba Timur Dalam Angka 2021

Berdasarkan tabel di atas, terdapat jumlah penduduk Kabupaten Sumba Timur sebanyak 244.820 jiwa pada tahun 2020. Proporsi penduduk ini terdiri dari Laki-laki sebanyak 125.967 jiwa dan Perempuan sebanyak 118.853 jiwa. Populasi penduduk Kabupaten Sumba Timur saat ini lebih didominasi oleh kelompok umur 0-4 tahun yaitu sebesar 30.979 jiwa, diikuti kelompok umur 5- 9 tahun dengan jumlah 26.425 jiwa, kelompok umur 10-14 tahun dengan jumlah

22.593 jiwa dan kelompok umur 20-24 tahun dengan jumlah 21.618 jiwa. Kondisi ini menunjukkan bahwa Kabupaten Sumba Timur akan memasuki era Bonus Demografi dimana kelebihan penduduk usia produktif akan mencapai puncaknya pada periode 2025-2030.

Komposisi penduduk yang bekerja sebagai petani/pekebun/peternak lebih dominan dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang lain yaitu sebesar 83.546 jiwa. Hal ini menggambarkan bahwa potensi Kabupaten Sumba Timur didominasi oleh Pertanian/Perkebunan/Peternakan. Pekerjaan sebagai Pelajar/Mahasiswa menempati posisi kedua sebesar 67.308 jiwa diikuti oleh mereka yang belum bekerja menempati posisi ketiga sebesar 56.871 jiwa.

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan Kabupaten Sumba Timur Tahun 2020

No

Pekerjaan

Jumlah

1

Mengurus rumah tangga

13.706

2

Pelajar/Mahasiswa

67.308

3

Pensiunan

1.425

4

PNS

4.283

5

TNI/Polri

546

6

Petani/Pekebun/Peternak

83.546

7

Nelayan

1.082

8

Karyawan Swasta/BUMN/BUMD

1.426

9

Honorer

3.177

10

Guru/Dosen

1.644

11

Wiraswasta

6.407

12

Sopir

715

13

Pendeta/Pastor/Imam/Uztad

285

14

Buruh harian lepas

450

15

Pekerjaan lainnya

1.949

16

Belum bekerja

56.871

 

Jumlah

244.820

Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Tahun 2021

Rasio beban ketergantungan (dependency ratio) pada dasarnya merupakan rasio dari jumlah penduduk usia non produktif terhadap jumlah penduduk usia produktif. Angka ini menunjukkan banyaknya penduduk usia non produktif yang harus ditanggung oleh penduduk usia produktif selain dirinya sendiri. Berdasarkan data persentase penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin tahun 2020 dalam sumba timur dalam angka tahun 2021 (diolah), jumlah penduduk usia produktif sebanyak 151.115 jiwa, penduduk usia non produktif sebanyak 93.705 jiwa yang terdiri dari penduduk usia muda sebanyak 79.997 jiwa dan usia tua 13.708 jiwa. Berdasarkan data ini, maka angka rasio ketergantungan (Dependency Ratio) penduduk Sumba Timur tahun 2020 adalah sebesar 62,01 persen yang berarti bahwa setiap 100 jiwa penduduk produktif menanggung beban hidup 62 jiwa penduduk usia non produktif. Beban tanggungan hidup penduduk muda (Youth Dependency Ratio) tahun 2020 yaitu 52,94 persen dan beban tanggungan hidup penduduk lanjut usia (Old Dependency Ratio) sebesar 9,07 persen.

Ukuran yang paling umum yang digunakan untuk melihat struktur penduduk menurut jenis kelamin adalah ratio jenis kelamin (Sex Ratio), yang merupakan perbandingan antara banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam banyaknya penduduk laki-laki per 100 perempuan. Ukuran ini sangat penting dalam mengidentifikasi ketidakseimbangan dalam struktur jenis kelamin karena hal ini merupakan salah satu masalah kependudukan yang dapat mengakibatkan masalah sosial ekonomi terutama dalam hal penyediaan pelayanan sesuai jenis kelamin dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Pada tahun 2020, ratio jenis kelamin (Sex Ratio) penduduk Sumba Timur ada sebesar 105 yang berarti bahwa setiap 100 penduduk perempuan ada 105 penduduk laki-laki.

 

Pendidikan

Urusan Wajib Pendidikan

Kualitas pendidikan masyarakat merupakan faktor penting dalam percepatan pembangunan daerah. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, maka sumber daya manusia yang dimiliki semakin berkualitas. Untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, maka Pemerintah Daerah harus mendorong percepatan penyediaan prasarana dan sarana pendidikan yang mendukung peningkatan pendidikan di masyarakat. Hal ini bertujuan agar setiap masyarakat memperoleh kesempatan dan peluang yang sama dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pendidikan Kabupaten Sumba  Timur diarahkan pada perluasan akses, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan. Hal tersebut diketahui melalui indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur perluasan akses, pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan.

Angka Harapan Lama Sekolah Dan Rata-Rata Lama Sekolah

Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang.

Angka HLS menunjukkan peluang anak usia 7 tahun ke atas untuk mengenyam pendidikan formal pada waktu tertentu. HLS Sumba Timur pada tahun 2020 sebesar 12,83 tahun. Artinya, secara rata-rata anak usia 7 tahun yang masuk jenjang pendidikan formal pada tahun 2020 memiliki peluang untuk bersekolah selama 12,83 tahun atau setara dengan Diploma I.

Rata rata lama sekolah adala rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis pendidikan yang pernah dijalani. Untuk mereka yang tamat SD diperhitungkan lama sekolah selama 6 tahun, tamat SMP diperhitungkan lama sekolah selama 9 tahun, tamat SM diperhitungkan lama sekolah selama 12 tahun tanpa memperhitungkan apakah pernah tinggal kelas atau tidak.

Rata-rata lama Sekolah digunakan untuk melihat kualitas penduduk di wilayah tertentu dari sisi rata-rata jumlah tahun efektif untuk bersekolah yang dicapai penduduk. Jumlah tahun efektif adalah jumlah tahun standar yang harus dijalani oleh seseorang untuk menamatkan suatu jenjang pendidikan dan untuk perencanaan dan evaluasi capaian program wajib belajar.

Rata-rata lama sekolah menggambarkan tingkat pencapaian setiap penduduk dalam kegiatan bersekolah. Semakin tinggi angka lamanya bersekolah semakin tinggi jenjang pendidikan yang telah dicapai penduduk, sehingga indikator ini sangat penting karena dapat menunjukkan kualitas sumber daya manusia.

Angka Harapan Lama Sekolah Dan Rata-Rata Lama Sekolah di Kabupaten Sumba Timur Tahun 2015– 2020

No

Uraian

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1.

Angka Harapan Lama Sekolah

12,04

12,3

12,79

12,8

12,81

12,83

2.

Rata2 Lama Sekolah

6,31

6,48

6,73

6,74

7,54

7,64

3.

Angka Harapan Lama Sekolah NTT

12,84

12,97

13,07

13,10

13,15

13,18

4.

Rata2 Lama Sekolah NTT

6,93

7,02

7,15

7,30

7,98

7,63

Angka Parisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Kasar merupakan perbandingan antara jumlah penduduk yang masih bersekolah di jenjang pendidikan tertentu (tanpa memandang usia penduduk tersebut) dengan jumlah penduduk yang memenuhi syarat resmi penduduk usia sekolah di jenjang pendidikan yang sama. Sejak tahun 2007, Pendidikan Non Formal (Paket A, Paket B, dan Paket C) turut diperhitungkan. APK digunakan untuk menunjukkan berapa besar umumnya tingkat partisipasi penduduk pada suatu tingkat pendidikan dan untuk menunjukkan berapa besar kapasitas sistem pendidikan dapat menampung siswa dari kelompok usia sekolah tertentu serta sebagai indikator pelengkap dari indikator Angka Partisipasi Murni (APM), sehingga dapat ditunjukkan besarnya penduduk yang bersekolah pada suatu jenjang namun usianya belum mencukupi atau bahkan melebihi dari usia sekolah yang seharusnya.

Nilai APK bisa lebih dari 100 persen karena populasi murid yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu mencakup anak di luar batas usia sekolah pada jenjang pendidikan tersebut. Penyebabnya adalah adanya pendaftaran siswa usia dini, pendaftaran siswa yang telat bersekolah, atau pengulangan kelas. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa wilayah tersebut mampu menampung penduduk usia sekolah lebih dari target yang sesungguhnya. APK yang tinggi menunjukkan tingginya tingkat partisipasi sekolah, tanpa memperhatikan ketepatan usia sekolah pada jenjang pendidikannya.

APM adalah Proporsi dari penduduk kelompok usia sekolah tertentu yang sedang bersekolah tepat di jenjang pendidikan yang seharusnya (sesuai antara umur penduduk dengan ketentuan usia bersekolah di jenjang tersebut) terhadap penduduk kelompok usia sekolah yang bersesuain. Sejak tahun 2007, Pendidikan Non Formal (Paket A, Paket B, Paket C) turut diperhitungkan. APM digunakan untuk menunjukkan seberapa besar penduduk yang bersekolah tepat waktu, atau menunjukkan seberapa besar penduduk yang bersekolah dengan umur yang sesuai dengan ketentuan kelompok usia sekolah di jenjang pendidikan yang sedang ditempuh.

APK dan APM Jenjang Pendidikan SD s/d SMA/SMK di Kabupaten Sumba Timur Tahun 2015– 2020

No

Usia Penduduk

Jenjang Pendidikan

2015

2016

2017

2018

2019

2020

1.

7-12 Thn

APK SD/MI

117,86

119,67

113,75

113,22

109,79

109,89

2.

13–15 Thn

APK SMP/MTs

91,04

92,49

91,41

92,53

89,09

89,24

3.

16– 18 Thn

APK SMA/MA/SMK

81,91

84,27

75,92

64,27

76,06

78,94

4.

7-12 Thn

APM SD/MI

96,54

97,21

94,40

95,48

96,26

96,23

5.

13–15 Thn

APM SMP/MTs

60,71

60,78

68,72

69,42

69,46

70,16

6.

16– 18 Thn

APMSMA/MA/SMK

55,63

73,57

54,95

50,47

51,46

51,39

Rasio Siswa Per Guru

Rasio guru-siswa didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah siswa dengan jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu. Rasio Siswa Per Guru digunakan untuk menggambarkan beban kerja guru dalam mengajar dan melihat mutu pengajaran di kelas. Semakin tinggi nilai rasio ini berarti semakin berkurang tingkat pengawasan dan perhatian guru terhadap murid sehingga mutu pengajaran cenderung semakin rendah.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, rasio guru-siswa yang ideal bagi Indonesia adalah 1:29 untuk jenjang pendidikan SD, 1:24 untuk SMP, dan 1:20 untuk SMA.

No

Kecamatan

SD

SMP

Jumlah Guru

Jumlah Siswa

Rasio Siswa/ Guru

Jumlah Guru

Jumlah Siswa

Rasio Siswa/ Guru

1

Kec. Haharu

67

844

12,60

21

427

20,33

2

Kec. Kahaungu Eti

88

1.479

16,81

25

455

18,20

3

Kec. Kambata Mapambuhang

66

595

9,02

21

271

12,90

4

Kec. Kambera

286

4.229

14,79

142

2.544

17,92

5

Kec. Kanatang

98

1.074

10,96

31

481

15,52

6

Kec. Karera

60

1.144

19,07

28

638

22,79

7

Kec. Katala Hamu Lingu

35

663

18,94

9

182

20,22

8

Kec. Kota Waingapu

266

4.172

15,68

150

2.841

18,94

9

Kec. Lewa

131

2.163

16,51

77

1.255

16,30

10

Kec. Lewa Tidahu

86

1.050

12,21

37

572

15,46

11

Kec. Mahu

41

867

21,15

17

350

20,59

12

Kec. Matawai La Pawu

82

1.042

12,71

21

420

20,00

13

Kec. Ngadu Ngala

70

825

11,79

12

289

24,08

14

Kec. Nggaha Ori Angu

108

1.359

12,58

32

633

19,78

15

Kec. Paberiwai

62

1.228

19,81

19

347

18,26

16

Kec. Pahunga Lodu

112

1.868

16,68

50

1.020

20,40

17

Kec. Pandawai

184

2.498

13,58

77

1.342

17,43

18

Kec. Pinu Pahar

73

1.139

15,60

35

505

14,43

19

Kec. Rindi

88

1.755

19,94

34

548

16,12

20

Kec. Tabundung

103

1.422

13,81

19

379

19,95

21

Kec. Umalulu

138

2.511

18,20

55

1.376

25,02

22

Kec. Wulla Waijelu

89

1.229

13,81

20

565

28,25

TOTAL

2.333

35.156

15,07

932

17.440

18,71





 

Kesehatan

Kesehatan.

Urusan Wajib Kesehatan

Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat merupakan prioritas pembangunan baik di tingkat pusat atau di tingkat daerah. Derajat kesehatan masyarakat yang semakin baik dan kehidupan masyarakat yang lebih layak, merupakan faktor  penggerak  dalam mewujudkan  kesejahteraan  masyarakat di daerah.

Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat di bidang kesehatan, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Timur telah melakukan upaya untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat dari semua lapisan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil, mudah, murah, dan merata.

Penyelenggaraan program kesehatan di Kabupaten Sumba Timur, tidak hanya menekankan kepada upaya kuratif dan rehabilitatif, akan tetapi Pemerintah Kabupaten Sumba Timur melalui Dinas Kesehatan juga melakukan upaya promotif dan preventif dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Usia Harapan Hidup

Usia Harapan Hidup merupakan komponen yang memberikan kontribusi terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Derajat kesehatan pada suatu daerah pada dasarnya dapat dilihat dari seberapa lama harapan hidup yang mampu dicapai. Semakin lama harapan hidup masyarakat yang mampu dicapai menggambarkan semakin tinggi derajat kesehatannya. Usia Harapan Hidup menunjukkan kualitas kesehatan masyarakat, yaitu mencerminkan “lamanya hidup” yang merupakan hasil dari pelaksanaan pembangunan kesehatan. Tren perkembangan Usia Harapan Hidup di Kabupaten Sumba Timur selama kurun waktu tahun 2016 hingga 2020 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

No

Indikator Sasaran

 

 

Tahun

 

 

 

 

2016

2017

2018

2019

2020

1

Indeks Pembanguan Manusia (IPM)

63.22

64,19

64,65

65,34

65,52

2

Usia Harapan Hidup (Tahun)

64,00

64,12

64,45

64,69

65,13

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur Tahun 2021

Angka Kematian Ibu

Angka kematian Ibu mengacu pada jumlah wanita meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan dan status gizi serta kondisi kesehatan ibu dalam hal tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, kondisi kesehatan ibu saat melahirkan, perawatan dan pelayanan kesehatan ibu pada masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. Tingkat Angka Kematian Ibu (AKI) terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya indikator keberhasilan pembangunan sektor kesehatan.

Berdasarkan target SDG’s, pada tahun 2030 mengurangi rasio angka kematian ibu hingga kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan capaian Kabupaten Sumba Timur Tahun 2020 sebesar 11 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini menunjukkaan bahwa angka kematian ibu di Kabupaten Sumba Timur masih rendah jika dibandingkan dengan target SDG's. Untuk menurunkan angka kematian ibu, Pemerintah Daerah melakukan peningkatan pelayanan kesehatan melalui peningkatan sarana dan prasarana kesehatan, penyediaan tenaga medis dan non medis sesuai kebutuhan, peningkatan kompetensi tenaga medis dan non medis, penyediaan biaya pendukung kesehatan dan pembebasan biaya pelayanan kesehatan dasar bagi keluarga miskin diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Sumba Timur.

Angka Kematian Ibu di Kabupaten Sumba Timur Tahun 2016-2020

No

Nama kecamatan

Jumlah kematian ibu

2016

2017

2018

2019

2020

1

KOTA WAINGAPU

4

2

2

1

0

2

KAMBERA

3

0

0

1

2

3

PANDAWAI

1

1

0

0

0

4

KAMBATA MAPAMBUHANG

0

0

0

0

1

5

KAHAUNGU ETI

0

0

0

0

0

6

UMALULU

1

0

2

0

1

7

RINDI

0

1

0

0

0

8

PAHUNGA LODU

0

0

1

1

0

9

WULLA WAIJELU

0

0

1

1

1

10

MATAWAI LAPAWU

0

0

0

1

1

11

PABERIWAI

0

0

0

0

1

12

MAHU

0

0

0

0

0

13

KARERA

0

0

0

0

0

14

NGADU NGALA

0

2

0

0

1

15

PINU PAHAR

0

0

1

0

0

16

TABUNDUNG

1

1

0

1

1

17

KATALA HAMULINGU

0

0

0

0

0

18

LEWA

1

1

0

1

0

19

LEWA TIDAHU

0

0

0

1

0

20

NGGAHA ORI ANGU

0

0

0

0

1

21

KANATANG

0

0

0

0

1

22

HAHARU

0

0

0

0

0

 

TOTAL

11

8

7

8

11

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur Tahun 2021

Angka Kematian Bayi

Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menetukan derajat kesehatan masyarakat, baik pada tingkat Kabupaten maupun tingkat Provinsi maupun nasional, dimana program pembangunan kesehatan banyak menitikberatkan pada upaya penurunan AKB. Angka kematian bayi adalah banyaknya bayi yang meninggal pada fase antara kelahiran hingga bayi belum mancapai usia 1 (satu) tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Jika dilihat dari tingkat kematian bayi, maka pada tahun 2017 - 2019 mengalami penurunan menjadi 54 kasus ( tahun 2017 ), 45 kasus ( tahun 2018 ) dan 20 kasus ( tahun 2019 ) dari 65 kasus yang terjadi pada tahun 2016, namun pada tahun 2020 kembali mengalami peningkatan menjadi 73 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka kematian bayi masih membutuhkan penanganan yang lebih baik dan kolaborasi dari semua perangkat daerah.

Tren perkembangan angka kematian bayi di Kabupaten Sumba Timur selama kurun waktu tahun 2016 hingga 2020 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

No

Nama Kecamatan

Jumlah Kematian Bayi

2016

2017

2018

2019

2020

1

KOTA WAINGAPU

2

1

1

0

0

2

KAMBERA

10

5

3

2

5

3

PANDAWAI

4

5

6

2

6

4

KAMBATA MAPAMBUHANG

7

3

0

0

3

5

KAHAUNGU ETI

7

3

2

2

5

6

UMALULU

5

5

4

2

6

7

RINDI

1

4

3

1

4

8

PAHUNGA LODU

4

2

4

1

3

9

WULLA WAIJELU

6

0

4

2

4

10

MATAWAI LAPAWU

5

3

2

1

2

11

PABERIWAI

2

3

6

1

0

12

MAHU

0

0

0

0

4

13

KARERA

1

2

1

0

6

14

NGADU NGALA

0

3

0

0

0

15

PINU PAHAR

3

4

2

2

2

16

TABUNDUNG

2

5

3

0

4

17

KATALA HAMULINGU

0

0

1

0

0

18

LEWA

3

0

0

0

10

19

LEWA TIDAHU

1

3

0

0

6

20

NGGAHA ORI ANG

2

1

0

1

0

21

KANATANG

0

2

0

2

2

22

HAHARU

0

0

3

1

1

 

TOTAL

65

54

45

20

73

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur Tahun 2021

Prevelensi Balita Stunting

Persoalan stunting merupakan salah satu persoalan di sektor kesehatan yang membutuhkan intervensi yang cepat dan tepat terhadap tumbuh kembang anak selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui kebijakan dan program/kegiatan baik secara spesifik maupun sensitif. Upaya Pemerintah Daerah dalam melakukan pencegahan dan penanganan stunting telah dilakukan melalui aksi-aksi konvergensi dengan melibatkan multistakeholder pada semua aras. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) bahwa angka prevelensi stunting di Kabupaten Sumba Timur mengalami penurunan dari Tahun 2013 sebesar 51,3 persen menjadi 39,3 persen pada Tahun 2018 atau menurun sebesar 12 persen. Pada tahun 2019- 2020, upaya pencegahan dan penanganan stunting telah dilakukan Pemerintah Daerah melalui aksi konvergensi dengan menentukan lokasi prioritas penanganan stunting untuk lebih focus dalam menurunkan prevelensi angka stunting.

Tren perkembangan Kasus kasus di Kabupaten Sumba Timur selama kurun waktu tahun 2019 hingga 2020 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Kasus Balita Sunting  Kabupaten Sumba Timur Tahun 2019-2020

No

Kecamatan

Tahun 2019

Tahun 2020

Balita

Balita Stunting

Prevelensi Stunting

Balita

Balita Stunting

Prevelensi Stunting

1

Haharu

171

94

55,0

492

169

34,3

2

Kahaungu Eti

129

65

50,4

872

368

42,2

3

Kambata Mapambuhang

264

17

6,4

375

84

22,4

4

Kambera

1662

142

8,5

1987

191

9,6

5

Kanatang

412

133

32,3

834

344

41,2

6

Karera

549

243

44,3

620

204

32,9

7

Katala Hamu Lingu

367

146

39,8

396

140

35,4

8

Kota Waingapu

1011

46

4,6

1654

66

9,2

9

Lewa

129

42

32,6

1081

323

29,9

10

Lewa Tidahu

599

263

43,9

619

198

32,0

11

Mahu

166

80

48,2

625

187

29,9

12

Matawai La Pawu

499

211

42,3

606

179

29,5

13

Ngadu Ngala

498

140

28,1

418

97

23,2

14

Nggaha Ori Angu

533

258

48,4

743

220

29,6

15

Pahunga Lodu

927

282

30,4

1201

279

23,2

16

Pandawai

1025

333

32,5

1538

239

15,5

17

Pinupahar

750

233

31,1

637

118

18,5

18

Rindi

76

15

19,7

771

75

9,7

19

Tabundung

480

189

39,4

671

151

40,5

20

Umalulu

155

6

3,9

1671

122

7,3

21

Wulla Waijelu

719

81

11,3

789

139

17,6

22

Paberiwai

 

 

 

305

168

55,1

 

TOTAL

11.121

3.019

27,1

18.905

4.061

21,5

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur Tahun 2021

 

Keagamaan

Dilihat dari kehidupan beragama, agama Kristen Protestan merupakan agama yang paling banyak jumlah umatnya di Kabupaten Sumba Timur, pada tahun 2006 tercatat sebesar 151.681 jiwa atau 70,45 % dari jumlah penduduk, diikuti oleh aliran kepercayaan lainnya sebanyak  33.057 jiwa atau 15,3 % dari jumlah penduduk, Kristen Katolik sebanyak 14.362 jiwa atau 6,67 %, Islam sebanyak 10.639 jiwa atau 4,94 % dan Hindu/Budha 231 jiwa atau 0,1 %.

 

Perekonomian

Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

PDRB

Sebagaimana perekonomian wilayah lain di Indonesia, perekonomian Kabupaten Sumba Timur pada dasarnya merupakan perekonomian agraris yang dicirikan dengan besarnya peranan sektor pertanian. Dari Tabel berikut dapat dilihat bahwa perekonomian Sumba Timur memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap sektor Pertanian.

Peran Sektor Ekonomi Terhadap PDRB Sumba Timur ADHB Tahun 2015–2020

Lapangan Usaha PDRB

Distribusi PDRB ADHB (Persen)

2015

2016

2017

2018

2019*

2020**

A - Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

26.04

25.58

25.51

25,34

25,39

25,95

B - Pertambangan dan Penggalian

1.37

1.31

1.24

1,17

1,12

1,12

C -Industri Pengolahan

1.40

1.40

1.39

1,38

1,42

1,39

D - Pengadaan Listrik dan Gas

0.04

0.05

0.05

0,05

0,05

0,06

E - Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

0.02

0.02

0.02

0,02

0,02

0,02

F – Konstruksi

11.02

11.34

11.45

11,52

11,68

10,86

G - Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

13.58

13.75

13.68

13.68

13,86

13,47

H - Transportasi dan Pergudangan

4.83

4.98

4,99

4,99

5,02

4,24

I - Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

0.25

0.26

0.27

0,29

0,30

0,23

J - Informasi dan Komunikasi

3.47

3.32

3.23

3,15

3,13

3,55

K - Jasa Keuangan dan Asuransi

3.42

3.43

3.51

3,57

3,51

3,84

L - Real Estate

1.97

1.98

1,95

1,93

1,76

1,73

M,N - Jasa Perusahaan

0.26

0.26

0.26

0,26

0,26

0,17

O - Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

10.22

10.25

10.26

10,25

10,38

10,78

P - Jasa Pendidikan

16.26

15,97

16.14

16,46

16,44

17,11

Q - Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

2.19

2.20

2.19

2,17

2,17

2,38

R,S,T,U - Jasa lainnya

3.89

3.90

3.87

3,78

3,50

3,10

PDRB

100

100

100

100

100

100

Sumber : Sumba Timur Dalam Angka 2021

Pada tahun 2020, lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan masih memberikan kontribusi yang cukup besar pada PDRB Kabupaten Sumba Timur walaupun kontribusinya setiap tahun cenderung mengalami penurunan. Lapangan usaha lainnya yang kontribusinya cukup besar terhadap PDRB Kabupaten Sumba Timur adalah jasa pendidikan (17,11 persen), perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor (13,47 persen), konstruksi (10,86 persen) dan administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib (10,78 persen). Sedangkan lapangan usaha lainnya memberikan kontribusi umumnya dibawah 5 persen.

 

Produk Domestik Regional Bruto dan Struktur Ekonomi

Besaran produksi barang dan jasa di Kabupaten Sumba Timur yang ditunjukan dalam PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sampai dengan keadaan tahun 2020 mencapai 6,25 Trilyun, dimana didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar kurang lebih 1,62 Trilyun atau 25,95 persen. diikuti sektor jasa pendidikan 1,07 Trilyun (17,11 persen). Sementara itu laju pertumbuhan ekonomi kurun waktu 2015 – 2019 fluktuatif di atas 5 persen namun pada tahun 2020 mengalami kontraksi -0,83%.

Nilai dan Pertumbuhan PDRB Kabupaten Sumba Timur Tahun 2015-2020

Uraian

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Nilai PDRB (dalam Juta Rupiah)

 

 

 

 

 

 

- Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)

4.505.551

4.958.380

5.370.180

5.816.330

6.256.410

6.256.880

- Atas Dasar Harga Konstan (ADHK)

3.274.746

3.440.580

3.618.320

3.805.960

4.001.190

3.968.060

Pertumbuhan PDRB ADHK (%)

5,04

5,06

5,17

5,19

5,13

(0,83)

Sumber : Sumba Timur Dalam Angka 2021

Dalam beberapa tahun terakhir peranan semua  sektor terus cenderung meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa secara perlahan perekonomian di Kabupaten Sumba Timur sudah mengalami pertumbuhan dengan distribusi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai leading sektor. Beberapa sektor yang terus mengikuti sektor utama yaitu sektor pendidikan dan perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dan juga menunjukan bahwa perkembangan kontribusi kedua sektor ini cenderung mengalami peningkatan.

Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Tahun 2015-2020

Lapangan Usaha PDRB

ADHK (%)

2015

2016

2017

2018

2019*

2020**

A -     Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

3.79

2.87

3.39

3.55

3,41

0,49

B -     Pertambangan dan Penggalian

3.00

2.39

2.38

2.30

2,25

0,31

C -     Industri Pengolahan

3.57

3.39

3.66

3.65

5,98

(3,87)

D -     Pengadaan Listrik dan Gas

15.5

12.5

13.1

9.59

1,10

13,48

E -     Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

2.92

1.02

0.91

0.99

0,98

1,70

F –     Konstruksi

6.07

7.25

7.46

7.04

6,94

(6,32)

G -     Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

6.16

7.04

6.00

7.06

7,03

(5,39

H -     Transportasi dan Pergudangan

5.04

5.19

5.00

5.25

4,88

(13,04)

I -      Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

6.28

6.63

12.50

14.53

9,95

(23,87

J -      Informasi dan Komunikasi

5.17

5.00

5.00

4.76

4,66

14,80

K -     Jasa Keuangan dan Asuransi

3.09

6.79

7.95

7.19

3,92

10,00

L -      Real Estate

3.56

3.27

3.28

4.76

0,04

(1,42)

M,N - Jasa Perusahaan

4.24

2.31

2.34

4.73

4,52

(37,68)

O -     Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

7.31

6.06

6.07

6.25

6,24

5,18

P -      Jasa Pendidikan

5.35

5.19

5.37

5.00

5,01

2,19

Q -     Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

4.42

6.13

5.65

5.10

6,16

4,29

R,S,T,U - Jasa lainnya

1.26

1.23

1.32

1.26

2,36

(11,85)

PDRB

5,04

5,06

5,17

5,19

5,13

(0,83)

Sumber : Sumba Timur Dalam Angka 2021

 

Mencermati PDRB dikaitkan dengan penggunaannya, perekonomian Kabupaten lebih banyak dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga (65,70 persen). Investasi belum memberi andil signifikan sedangkan ekspor menunjukan nilai negatif (menurun). Nilai negatif pada komponen ekspor menunjukan bahwa barang dan jasa yang berasal dari luar wilayah lebih banyak dibandingkan dengan yang dikirim ke luar wilayah Kabupaten Sumba Timur.

Untuk Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebagai pengeluaran untuk barang modal yang mempunyai umur pemakaian lebih dari satu tahun dan tidak merupakan barang konsumsi. PMTB mencakup bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal, bangunan lain seperti jalan dan bandara, serta mesin dan peralatan memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian dan menunjukkan semakin besar jumlah PMTB Kabupaten Sumba Timur.

PDRB Pengeluaran ADHK 2015-2019

Jenis Pengeluaran

Produk Domestik Regional Bruto Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan (Milyar Rupiah)

 

2015

%

2016

%

2017

%

2018*

%

2019**

%

Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga

2767,04

61,41

3005,91

60,62

3217,04

59,91

3356,34

57,71

3630,01

58,01

Pengeluaran Konsumsi LNPRT

158,35

3,51

163,08

3,29

179,77

3,35

193,41

3,33

209,55

3,35

Pengeluaran Konsumsi Pemerintah

1260,9

27,99

1353,44

27,30

1506,38

28,05

1659,46

28,53

1810,2

28,93

Pembentukan Modal Tetap Bruto

1644,71

36,50

2014,8

40,63

2256,03

42,01

2374,27

40,82

2578,55

41,21

Perubahan Inventori

58,46

1,30

32,2

0,65

39,02

0,73

56,05

0,96

63,38

1,01

Net Ekspor Barang dan Jasa

-1383,9

-30,72

-1611,06

-32,49

-1828,06

-34,04

-1823,31

-31,35

-2034,39

-32,51

PDRB

4505,56

100

4958,37

100

5370,18

100

5816,22

100

6257,3

100

Sumber : Sumba Timur dalam Angka 2021, diolah

Pengeluaran/Konsumsi Rumah Tangga

Pengeluaran rata-rata per kapita sebulan adalah hasil bagi antara total pengeluaran seluruh penduduk selama satu tahun dengan jumlah penduduk. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk Sumba Timur tahun 2020 adalah  sebesar  Rp.813.884  yang  terdiri  dari  Rp.485.502  (59,65  persen) pengeluaran untuk kelompok makanan sedangkan untuk kelompok bukan makanan sebesar Rp.328.382 (40,35 persen). Kondisi ini sejalan dengan Hukum Engel (Engel’s law) yang menyatakan bahwa pada tingkat pendapatan masyarakat yang masih rendah, maka pengeluaran untuk makanan akan memiliki proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan bukan makanan. Hal ini berarti pula bahwa kebutuhan makanan masih merupakan prioritas utama bagi masyarakat Sumba Timur. Padi-padian masih merupakan komoditi yang paling banyak dibeli oleh masyarakat di Sumba Timur pada Tahun 2020, dimana sekitar 15.09 persen persen dari pengeluaran untuk makanan digunakan untuk padi-padian, dan diikuti oleh komoditi lainnya secara berturut- turut makanan dan minuman jadi 12,99 persen, rokok 6.94 persen, sayur- sayuran 6,86 persen, ikan 4,71 persen dan daging 4,16 persen. Sedangkan pengeluaran untuk barang makanan lainnya umumnya dibawah 3 persen.

Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Inflasi

Gambaran Laju Pertumbuhan Ekonomi Dan Tingkat Inflasi Tahun 2015 - 2020

Indikator

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Laju pertumbuhan ekonomi (%)

5,04

5,06

5,17

5,19

5,13

-0,83

Tingkat inflasi (%)

5,98

4,75

3,57

3,10

2,79

0,84

Sumber : Sumba Timur dalam Angka 2021, diolah

Pertumbuhan ekonomi Sumba Timur pada kurun waktu 2015-2020 berfluktuasi. Pada Tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Sumba Timur berada pada posisi 5,04 persen, Tahun 2016 meningkat sebesar 5.06 persen, pada Tahun 2017 terus meningkat menjadi sebesar 5,17 persen dan tahun 2018 meningkat menjadi 5,19 persen. Namun pada tahun 2019 kembali mengalami perlambatan menjadi 5,13 persen dan pada tahun 2020 mengalami pertumbuhan minus (kontraksi) -0,83 persen. Pertumbuhan minus pada tahun 2020 lebih dominan disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak akhir tahun 2019 sampai dengan saat ini.

Sektor yang mengalami laju pertumbuhan tertinggi tahun 2020 adalah sektor Informasi dan Komunikasi sebesar 14,80 persen, diikuti sektor Pengadaan Listrik dan Gas 13,48 persen dan Jasa Keuangan dan Asuransi 10 persen. Sedangkan sektor lainnya mengalami pertumbuhan di bawah 6 persen dan pertumbuhan minus.

Laju inflasi  Sumba Timur tahun 2015 – 2020 yang diperoleh dari laju pertumbuhan indeks harga implisit PDRB Kabupaten Sumba Timur menunjukkan bahwa inflasi PDRB Kabupaten Sumba Timur bisa ditekan dan cenderung menurun. Pada Tahun 2015 sebesar 5,98 persen, Tahun 2016 sebesar 4,75 persen, tahun 2017 menurun menjadi 3,57 persen, tahun 2018 menurun menjadi 3,10 persen, tahun 2019 sebesar 2,79 persen dan tahun 2020 sebesar 0,84 persen.

 

Perdagangan

Industri

Sektor industri dipandang sebagai sector yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi, sehingga dengan keunggulan sector industri akan didapat nilai tambah yang tinggi, yang pada akhirnya tujuan menciptakan kesejahteraan masyarakat bisa terwujudMasuknya sektor swasta akan menciptakan suasana kompetitif sehingga diharapkan dapat memacu perkembangan ekonomi di Kabupaten Sumba Timur. Jenis Industri  yang ada di Kabupaten Sumba timur masih berupa industry kecil dengan jumlah 612 unit pada tahun 2010 dan bertambah menjadi 926 unit pada tahun 2011, jumlah tenaga kerja pada industry ini sebanyak 1780 orang pada tahun 2010 dan 1736 orang pada tahun 2011.

Selengkapnya...

 

Transportasi

Transportasi Udara

Bandara Umbu Mehang Kunda


Berjarak sekitar 5 Km dari Pusat Kota Waingapu, sebelumnya bernama Bandar Udara Mau Hau dan pada tanggal 28 Mei 2009 telah berganti nama menjadi Bandar Udara Umbu Mehang Kunda, sebagai penghormatan terhadap almarhum Umbu Mehang Kunda, Bupati Sumba Timur periode 1999-2004 dan 2005-2010, yang meninggal dunia 2 Agustus 2008. Bandara ini mempunyai ukuran Lebar 30 Meter dan Panjang Landasan Pacu 1800 Meter. Maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara ini antara lain :


1. Wings Air (Lion Air Grup) dengan Rute :   
* Kupang - Waingapu (PP)   
* Denpasar - Waingapu (PP)

2. City Link (Garuda Indonesia Grup)  : Kupang - Waingapu (PP)

3. Susi Air dengan Rute :

* Sabu -  Waingapu (PP)