Dalam sektor pertanian juga terdapat sub sektor peternakan yang merupakan salah satu sub sektor paling dominan setelah sub sektor tanaman pangan. Pembangunan sub sektor peternakan pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan petani peternak dalam rangka peningkatan populasi maupun produksi ternak dan hasil-hasilnya serta meningkatkan konsumsi potensi hewani diantaranya daging telur dan susu yang banyak dikonsumsi masyarakat dengan tujuan untuk mencukupi permintaan dalam negeri guna menuju swasembada protein.

Untuk itu pemerintah Kabupaten Sumba Timur dengan dana dan sumber daya yang tersedia berusaha melaksanakan diversifikasi ternak dalam rangka peningkatan populasi, penyebaran dan produksi serta mengembangkan ekspor ternak. Adapun perkembangan populasi ternak di Kabupaten Sumba Timur sejak tahun 2015 2020 adalah sebagai berikut:

Populasi Ternak Kab. Sumba Timur Tahun 2015– 2020

Jenis Ternak

Tahun (ekor)

Rerata Pertumbuhan Populasi (%)

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Sapi

47.843

46.849

49.494

51.811

53.835

56.51

3.4%

Kerbau

38.756

31.856

38.23

39.737

39.821

33.659

-1.8%

Kuda

32.355

30.529

31.729

32.983

36.005

41.537

5.4%

Kambing

N/A

N/A

56.167

57.852

59.298

63.442

4.2%

Babi

N/A

N/A

120.772

124.699

128.44

64.219

-14.6%

Sumber : Dinas Peternakan Kab. Sumba Timur 2021 (dianalisis)

Dari tabel di atas diperoleh gambaran rata-rata laju pertumbuhan ternak mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2020. Pertumbuhan populasi terbesar secara rata-rata adalah pada ternak kuda sebesar 5,4 % diikuti oleh ternak kambing (4,2%) dan ternak sapi (3,4%). Pertumbuhan minus terbesar terjadi pada populasi ternak babi (14,6%) dan diikuti oleh ternak kerbau (1,8%). Hal ini terjadi terutama disebabkan oleh serangan virus ASF (African Swine Fever) pada ternak babi dan serangan penyakit Surra pada ternak kerbau dan kuda. Hal ini menjadi tantangan bagi Kabupaten Sumba Timur untuk dapat merealisasikan harapan pemerintah pusat sebagai daerah pemasok daging bagi terpenuhinya kebutuhan protein hewani secara nasional. Dilain sisi, sub sektor peternakan memiliki kontribusi yang cukup besar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Sumba Timur .

Sebagai leading sector dalam pembangunan pertanian dalam arti luas dapat diikuti pada Table 2-80 sebagai gambaran kontribusi langsung sub sector peternakan dalam pembangunan ekonomi didaerah ini.

 

Jumlah Ternak yang Keluar Tahun 2015-2020

Jenis Ternak

Jumlah (ekor)

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

Sapi

5.124

4.055

4.351

4.347

3.742

2.750

24.561

Kerbau

2.638

1.814

1.702

3.944

1.453

954

10.475

Kuda

4.599

3.416

4.165

1.825

4.337

3.737

24.181

Kambing

21.764

21.764

23.152

20.537

24.506

23.136

130.230

Sumber : Dinas Peternakan Kab. Sumba Timur, 2021

Dari tabel tersebut di atas menunjukan bahwa rata-rata jumlah ternak yang keluar daerah cenderung fluktuatif. Jumlah ternak sapi yang keluar tahun 2015- 2020 cenderung menurun, demikian juga dengan ternak kerbau. Sedangkan dengan ternak kuda cenderung fluktuatif sebaliknya ternak kambing yang keluar daerah cenderung mengalami peningkatan. Data yang menunjukan tingkat populasi dan kondisi ternak yang keluar daerah di Kabupaten Sumba Timur di atas menggambarkan populasi ternak di Kabupaten Sumba Timur secara umum cenderung terkendali. Pengendalian populasi ini terjadi dalam kegiatan antar pulau yang khusus membatasi pengiriman ternak-ternak produktif yang berakibat pada menurunnya populasi ternak di Sumba Timur. Pengendalian antar pulau ternak betina yang masih produktif merupakan bentuk dari pengendalian populasi ternak di Sumba Timur. Selain itu upaya untuk meningkatkan populasi ternak di Kabupaten Sumba Timur terus dilakukan oleh instansi terkait berupa program Sapi Induk Wajib Bunting (SIWAB) dan Inseminasi Buatan (IB).

Sebagaimana diketahui bahwa ternak merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Sumba Timur disamping memiliki nilai sosial budaya juga memiliki nilai ekonomis sebagai salah satu sumber pendapatan peternak sekaligus sekaligus sumber pendapatan daerah melalui perdagangan antar pulau. Akan tetapi akhir-akhir ini populasi ternak besar cenderung menurun baik karena perdagangan antar pulau, maupun urusan sosial budaya antar daerah dalam pulau Sumba serta terjadinya kekurangan pakan pada saat musim kemarau akibat degradasi lingkungan.

Pembangunan peternakan di Nusa Tenggara Timur khususnya kabupaten Sumba Timur dihadapkan pada berbagai masalah dasar yang membutuhkan penanganan secara bertahap. Usaha meningkatkan produksi peternakan agar pendapatan dapat meningkat dalam rangka memperbaiki kesejahteraan petani peternak secara nyata dan stabil, tidak saja berhadapan dengan masalah teknis tetapi juga masalah social ekonomi dan pengelolaan pembangunan itu sendiri. Salah satu masalah dan tantangan yang masih akan dihadapi adalah aspek pengembangan dan penggunaan sarana produksi. Bibit ternak merupakan salah satu sarana produksi terpenting dari pembudidayaan ternak dalam rangka mengembangkan usaha peternakan. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa melalui perbenihan dan perbibitan yang tangguh akan berdampak pada terwujudnya usaha budidaya yang berdaya saing dan produktif.

Dengan adanya usaha perbaikan bibit ternak, maka upaya untuk meningkatkan populasi, produksi dan nilai tambah produk-produk peternakan akan semakin terbuka. Sebab disadari bahwa pembangunan peternakan memiliki nilai yang penting dalam ketahanan pangan dalam upaya mencerdaskan Sumber Daya Manusia. Fungsi protein hewani sangat menentukan dalam mencerdaskan manusia, karena kandungan asam aminonya tidak tergantikan sehingga dapat dikatakan bahwa protein hewani  mampu menjadi agen pembangunan.

Jenis – jenis ternak yang saat ini di usahakan di Sumba Timur antara lain: Sapi, Kerbau, Kuda, Kambing Domba dan Babi. Selain ternak besar masyarakat juga memelihara ternak kecil seperti unggas yaitu Ayam Kampung, Ayam Pedaging dan Ayam Petelur

 

PERTERNAKAN