• Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_1
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_2
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_3
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_4
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_5
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_6
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_7
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_8
  • Pemimpin Baru Sumba Timur 2021 - 2026_9
1 2 3 4
Login Form



Pertanian

PERTANIAN

Kondisi Kabupaten Sumba Timur yang agraris, menjadikan sektor pertanian berkontribusi secara dominan dalam pembangunan ekonomi Kabupaten Sumba Timur. Pembangunan di bidang pertanian diarahkan untuk mewujudkan masyarakat pertanian yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing.

Sub sektor pertanian merupakan sektor primadona yang mendominasi perekonomian Kabupaten Sumba Timur. Dikatakan demikian karena sub sektor ini merupakan sub sektor yang paling dominan dalam pembentukan PDRB dan sekaligus sebagai Sub sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Disisi lain dominasi sub sektor pertanian dalam struktur perekonomian belum diimbangi dengan pertumbuhan yang memadai, atau dengan kata lain masih bersifat pertanian subsisten dan belum berorientasi pasar. Hasil pertanian yang ada cenderung banyak dikonsumsi dan hanya sedikit yang dapat diantar pulaukan.

Upaya yang telah dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Timur dalam meningkatkan kinerja pembangunan di bidang pertanian diantaranya, yaitu mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan, meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM pertanian, dan mendorong tumbuh kembangnya usaha pertanian yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Jenis tanaman pangan yang dikembangkan di Kabupaten Sumba Timur adalah padi (padi sawah dan padi ladang), Palawija (jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang kedele dan kacang hijau, dan hortikultura (buah-buahan dan sayur-sayuran). Adapun perkembangan tanaman padi sawah, padi ladang, jagung dan kedelai Tahun 2016-2020 dapat diikuti pada tabel berikut :

Produktifitas Padi, Jagung dan Kedelai Tahun 2016-2020 (Ton/Ha)

No.

Indikator

2016

2017

2018

2019

2020

1

Padi Sawah

4,13

4,03

3,04

3,24

4,13

2

Padi Ladang

3,87

3,27

2,12

2,12

3,57

3

Jagung

3,54

3,14

2,61

2,88

3,28

4

Kedelai

0,87

0,84

0,82

0,77

0,39

Sumber : Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumba Timur, 2021

Produktivitas adalah jumLah seluruh produksi dibagi luas panen. Dari data yang tercantum dalam tabel tersebut dapat diimplikasikan bahwa program nasional dengan orientasi perkembangan Pajale (padi, jagung dan kedelai) telah berkembang cukup baik di Kabupaten Sumba Timur. Data yang tercantum dalam tabel menunjukan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2016 sampai tahun 2020 dan kondisi ini telah memberikan kontribusi yang cukup kuat dalam pembentukan sektor PDRB sub sektor pertanian. Selain padi jagung dan kedelai, tanaman pertanian lainnya yang cukup dominan dalam pembentukan PDRB Sumba Timur adalah Kacang Tanah, Kacang Hijau dan Umbi-Umbian yang dapat dilihat perkembangan pada tabel berikut.

Produktivitas Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu dan Ubi Jalar Tahun 2020

No

Komoditi

Luas panen (ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (ton/ha)

1

Ubi kayu

2.675

27.420

102,47

2

Ubi jalar

714

5.232

73,28

3

Kacang tanah

1.406

1.583

11,26

4

Kacang hijau

2.234

58

2,48

Sumber : Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Sumba Timur 2021

Kondisi tanaman kacang tanah, kacang hijau dan umbi-umbian di atas menunjukan bahwa tanaman alternatif pangan di Kabupaten Sumba Timur sesungguhnya dapat berkembang secara baik. Data luas panen dan produksi tanaman pertanian di atas menunjukan bahwa Sumba Timur adalah wilayah yang cukup potensial dalam pengembangan tanaman pangan alternatif dengan nilai kecukupan lahan yang cukup. Hal tersebut tentunya mendapat perhatian dari pemerintah daerah untuk menginformasikan secara masal melalui saluran komunikasi nasional dan ajang promosi agar menarik minat para investor menanamkan modalnya di Sumba Timur pada sektor tanaman Kacang Tanah, Kacang Hijau dan Umbi-umbian.

Sedangkan sub sektor perkebunan kedepan diharapkan akan menjadi pemasok bahan baku  untuk industri. Komoditi perkebunan yang dominan dikembangkan baik oleh pemerintah daerah maupun oleh masyarakat adalah jambu mete, kelapa, kemiri, pinang, kopi, kakao dan sirih. Adapun perkembangan tanaman perkebunan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2020

No

Komoditi

Luas areal (ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (ton/ha)

1

Kelapa

4.522

1.385

0,31

2

Jambu Mete

9.764

3.424

0,35

3

Kopi

1.145

263

0,23

4

Kakao

738

45,6

0,06

5

Kemiri

2.446

942,5

0,39

6

Kapuk

0

0

0,00

7

Cengkeh

0

0

0,00

8

Pinang

2.118

697

0,33

9

Vanili

0

0

0,00

10

Lada

0

0

0,00

11

Asam

0

0

0,00

12

Jarak Pagar

0

0

0,00

13

Pala

0

0

0,00

14

Kapas

0

0

0,00

15

Tembakau

72

26,8

0,37

16

Sirih

571

227

0,40

17

Lontar

0

0

0,00

 

Total

21.376

7.011

0,33

Sumber: Sumba Timur Dalam Angka 2021, diolah

Dari tabel di atas nampak bahwa luas areal tanaman perkebunan di Kabupaten Sumba Timur seluas 21.376 ha dengan total produksi pada tahun 2020 sebsar 7.011 ton. Terdapat lima jenis tanaman perkebunan yang cukup menonjol dalam hal produksi dimana produksi tertinggi ada pada komoditi jambu mete, diikuti kelapa, kemiri, pinang, kopi dan sirih. Sedangkan dari sisi produktivitas tertinggi ada pada komoditi sirih, diikuti kemiri, tembakau, jambu mete, pinang, kelapa dan kopi.

 

Perkebunan

PERKEBUNAN

sub sektor perkebunan kedepan diharapkan akan menjadi pemasok bahan baku  untuk industri. Komoditi perkebunan yang dominan dikembangkan baik oleh pemerintah daerah maupun oleh masyarakat adalah jambu mete, kelapa, kemiri, pinang, kopi, kakao dan sirih. Adapun perkembangan tanaman perkebunan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2020

No

Komoditi

Luas areal (ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (ton/ha)

1

Kelapa

4.522

1.385

0,31

2

Jambu Mete

9.764

3.424

0,35

3

Kopi

1.145

263

0,23

4

Kakao

738

45,6

0,06

5

Kemiri

2.446

942,5

0,39

6

Kapuk

0

0

0,00

7

Cengkeh

0

0

0,00

8

Pinang

2.118

697

0,33

9

Vanili

0

0

0,00

10

Lada

0

0

0,00

11

Asam

0

0

0,00

12

Jarak Pagar

0

0

0,00

13

Pala

0

0

0,00

14

Kapas

0

0

0,00

15

Tembakau

72

26,8

0,37

16

Sirih

571

227

0,40

17

Lontar

0

0

0,00

 

Total

21.376

7.011

0,33

Sumber: Sumba Timur Dalam Angka 2021, diolah

Dari tabel di atas nampak bahwa luas areal tanaman perkebunan di Kabupaten Sumba Timur seluas 21.376 ha dengan total produksi pada tahun 2020 sebsar 7.011 ton. Terdapat lima jenis tanaman perkebunan yang cukup menonjol dalam hal produksi dimana produksi tertinggi ada pada komoditi jambu mete, diikuti kelapa, kemiri, pinang, kopi dan sirih. Sedangkan dari sisi produktivitas tertinggi ada pada komoditi sirih, diikuti kemiri, tembakau, jambu mete, pinang, kelapa dan kopi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kehutanan

Kehutanan

Kontribusi sub sektor Kehutanan terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Sumba Timur masih tergolong kecil bila dibandingkan dengan sub sektor lainnnya pada sektor pertanian. Walaupun peran sub sektor tersebut terhadap perekonomian Sumba Timur relatif terbatas, akan tetapi mengingat pentingnya keseimbangan ekologis, maka pengembangan dan pemeliharaan konservasi sumber daya alam dan lingkungan merupakan hal yang tak terhindarkan untuk dikembangkan mengingat saat ini isu pemanasan global dan isu lingkungan tidak saja menjadi isu nasional akan tetapi menjadi isu Internasional. Di samping itu kondisi lingkungan alam Sumba Timur membutuhkan penanganan yang bersifat segera mengingat saat ini cenderung mengalami degradasi lingkungan.

Berdasarkan Data Statistik tahun 2021 Luas hutan yang ada di Kabupaten Sumba Timur adalah sebesar 241.348,95 ha yang didominasi oleh Hutan Lindung dengan menempati  areal seluas 75.286,18 ha atau sebesar 31,19 persen, dan areal Hutan Konversi seluas 57.885,92 ha atau sebesar 24,04 persen serta areal Taman Nasional seluas 57.443,943 ha atau sebesar 23,98 persen, Sisanya terdiri dari hutan produksi tetap seluas 25.380,66 ha atau 10,52 persen, hutan produksi terbatas seluas 19.048,05 ha atau 7,89 persen, kawasan swaka alam seluas 5.816,27 ha atau 2,41 persen dan hutan untuk kepentingan penelitian (Wana Riset) seluas 487,930 ha atau 0,20 persen dari luas hutan di Kabupaten Sumba Timur.

Salah satu tanaman khas daerah yang pernah mengharumkan nama Pulau Sumba adalah Tanaman Cendana yang populasinya cenderung berkurang. Pada saat ini minat masyarakat untuk mengembangkan cendana meningkat sejalan dengan tekad Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai Provinsi Cendana dan adanya tekad Pemerintah Kabupaten Sumba Timur bersama masyarakat untuk kembali membudidayakan tanaman Cendana sebagai tanaman kebanggaan daerah.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan Kabupaten Sumba Timur, terdapat beberapa kekayaan flora di Kabupaten Sumba Timur berupa pohon khas Sumba yaitu Injuwatu (Pleiogynium Timorensisi), Kaduru (Plaquim sp), Tera (Artocarpus sp), Lobung (Decospermiun sp), Walakiri (Erythrina Subumbrars), Mara (Tetrameles Nudiflora), Wangga Kahembi (Schleira deosa), Beringin (Fiscus sp), Hurani (Toona Sureni) dan Cendana (Santalum Album). Kekayaan fauna bahwa ada 8 jenis burung yaitu Julang Sumba (Aceros Everetti), Kakatua Jambul Jingga (Cacatua Sulphurea), Gemak Sumba (Turnis Everetti), Punai Sumba (Treron Teysmani), Walik Rawamanu (Ptilonopus dohertyii), Senyap Madu Sumba (Nektarinana Buettikoferi), Sikatan Sumba (Ficeduka Harteti), Punggok Wengi (Nixon Rodolffi).

 

Kelautan Dan Perikanan

Bidang Kelautan dan Perikanan

Bidang kelautan dan perikanan merupakan bidang dengan tingkat keunggulan yang cukup tinggi dalam konteks pembangunan di Sumba Timur. Hal mana karena sebagian besar wilayah pedesaan yang ada di Kabupaten Sumba Timur merupakan wilayah pesisir dengan berbagai potensi Kelautan dan Perikanan yang dapat digarap dan dimanfaatkan untuk meningkat pendapatan masyarakat.

Sebagai bidang yang prima dalam konteks pembangunan Sumba Timur, seharusnya sektor kelautan dan perikanan telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi peningkatan pendapatan masyarakat nelayan, termasuk ketersediaan produksi hasil laut yang memadai dan dapat diakses oleh masyarakat dengan tingkat harga yang terjangkau.

Berdasar data statistik tahun 2015 – 2019 menunjukan bahwa jumlah produksi ikan dalam 5 tahun menunjukan penurunan yang signifikan. Tahun 2015 jumlah produksi perikanan tangkap mencapai 12.159 ton, tahun 2016 mengalami penurunan menjadi 11.967 ton, tahun 2017 juga mengalami penurunan sebesar 9,108, dan tahun 2018 sedikit mengalami kenaikan menjadi 9.122 ton dan tahun 2019 juga sedikit mengalami kenaikan menjadi 9.202 ton namun tidak pernah kembali menyentuh angka produksi seperti yang terjadi pada tahun 2015.

Jika dibandingkan dengan ketersediaan armada penangkapan ikan dalam kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 telah terjadi penambahan armada penangkapan ikan sebanyak 513 buah. Hal tersebut menunjukkan adanya kondisi berbanding terbalik antara penurunan jumlah produksi perikanan tangkap dengan penambahan jumlah armada penangkapan. Kondisi ini tentunya memerlukan perhatian Pemerintah Daerah termasuk persoalan tingginya harga ikan yang ada di Kabupaten Sumba Timur.

Disamping perikanan tangkap yang disebutkan di atas, Kabupaten Sumba Timur juga memiliki potensi perikanan budidaya ikan air tawar dan budidaya rumput laut yang ditunjang oleh panjangnya garis pantai dan limpahan air oleh karena jumlah mata air dan sungai yang relatife cukup besar. Bertolak dari potensi yang ada perlu dilakukan upaya sistimatis untuk meningkatkan dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki.

Dari kondisi di atas, maka yang menjadi permasalahan pokok pada Bidang Kelautan dan perikanan adalah Belum optimalnya Pengembangan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, guna mendukung peningkatan produktivitas perikanan di Kabupaten Sumba Timur. Adapun faktor penyebabnya antara lain :

1)       Belum optimalnya pengendalian rantai pasok pemasaran ikan hasil perikanan.

2)       Masih rendahnya tingkat penguasaan teknologi penangkapan

3)       Terbatasnya  modal  sarana  dan  prasarana  perikanan  tangkap  dan perikanan budidaya

4)       Belum optimalnya pengelolaan budidaya rumput laut.

5)       Belum optimalnya pengelolaan sarana dan prasarana ikan air tawar.

6)       Rendahnya kapasitas pembudidaya ikan air tawar dan nelayan.

7)       Terbatasnya tenaga penyuluh perikanan.

8)       Belum terintegrasi system pengelolaan penangkapan dan distribusi.

9)       Tingginya pengrusakan sumber daya kelautan dan terumbu karang.

10)  Belum optimalnya produksi dan produktivitas garam daerah.

 

Perternakan

 

 

 

 

 

Dalam sektor pertanian juga terdapat sub sektor peternakan yang merupakan salah satu sub sektor paling dominan setelah sub sektor tanaman pangan. Pembangunan sub sektor peternakan pada dasarnya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan petani peternak dalam rangka peningkatan populasi maupun produksi ternak dan hasil-hasilnya serta meningkatkan konsumsi potensi hewani diantaranya daging telur dan susu yang banyak dikonsumsi masyarakat dengan tujuan untuk mencukupi permintaan dalam negeri guna menuju swasembada protein.

Untuk itu pemerintah Kabupaten Sumba Timur dengan dana dan sumber daya yang tersedia berusaha melaksanakan diversifikasi ternak dalam rangka peningkatan populasi, penyebaran dan produksi serta mengembangkan ekspor ternak. Adapun perkembangan populasi ternak di Kabupaten Sumba Timur sejak tahun 2015 2020 adalah sebagai berikut:

Populasi Ternak Kab. Sumba Timur Tahun 2015– 2020

Jenis Ternak

Tahun (ekor)

Rerata Pertumbuhan Populasi (%)

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Sapi

47.843

46.849

49.494

51.811

53.835

56.51

3.4%

Kerbau

38.756

31.856

38.23

39.737

39.821

33.659

-1.8%

Kuda

32.355

30.529

31.729

32.983

36.005

41.537

5.4%

Kambing

N/A

N/A

56.167

57.852

59.298

63.442

4.2%

Babi

N/A

N/A

120.772

124.699

128.44

64.219

-14.6%

Sumber : Dinas Peternakan Kab. Sumba Timur 2021 (dianalisis)

Dari tabel di atas diperoleh gambaran rata-rata laju pertumbuhan ternak mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2020. Pertumbuhan populasi terbesar secara rata-rata adalah pada ternak kuda sebesar 5,4 % diikuti oleh ternak kambing (4,2%) dan ternak sapi (3,4%). Pertumbuhan minus terbesar terjadi pada populasi ternak babi (14,6%) dan diikuti oleh ternak kerbau (1,8%). Hal ini terjadi terutama disebabkan oleh serangan virus ASF (African Swine Fever) pada ternak babi dan serangan penyakit Surra pada ternak kerbau dan kuda. Hal ini menjadi tantangan bagi Kabupaten Sumba Timur untuk dapat merealisasikan harapan pemerintah pusat sebagai daerah pemasok daging bagi terpenuhinya kebutuhan protein hewani secara nasional. Dilain sisi, sub sektor peternakan memiliki kontribusi yang cukup besar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Sumba Timur .

Sebagai leading sector dalam pembangunan pertanian dalam arti luas dapat diikuti pada Table 2-80 sebagai gambaran kontribusi langsung sub sector peternakan dalam pembangunan ekonomi didaerah ini.

 

Jumlah Ternak yang Keluar Tahun 2015-2020

Jenis Ternak

Jumlah (ekor)

2015

2016

2017

2018

2019

2020

Total

Sapi

5.124

4.055

4.351

4.347

3.742

2.750

24.561

Kerbau

2.638

1.814

1.702

3.944

1.453

954

10.475

Kuda

4.599

3.416

4.165

1.825

4.337

3.737

24.181

Kambing

21.764

21.764

23.152

20.537

24.506

23.136

130.230

Sumber : Dinas Peternakan Kab. Sumba Timur, 2021

Dari tabel tersebut di atas menunjukan bahwa rata-rata jumlah ternak yang keluar daerah cenderung fluktuatif. Jumlah ternak sapi yang keluar tahun 2015- 2020 cenderung menurun, demikian juga dengan ternak kerbau. Sedangkan dengan ternak kuda cenderung fluktuatif sebaliknya ternak kambing yang keluar daerah cenderung mengalami peningkatan. Data yang menunjukan tingkat populasi dan kondisi ternak yang keluar daerah di Kabupaten Sumba Timur di atas menggambarkan populasi ternak di Kabupaten Sumba Timur secara umum cenderung terkendali. Pengendalian populasi ini terjadi dalam kegiatan antar pulau yang khusus membatasi pengiriman ternak-ternak produktif yang berakibat pada menurunnya populasi ternak di Sumba Timur. Pengendalian antar pulau ternak betina yang masih produktif merupakan bentuk dari pengendalian populasi ternak di Sumba Timur. Selain itu upaya untuk meningkatkan populasi ternak di Kabupaten Sumba Timur terus dilakukan oleh instansi terkait berupa program Sapi Induk Wajib Bunting (SIWAB) dan Inseminasi Buatan (IB).

Sebagaimana diketahui bahwa ternak merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Sumba Timur disamping memiliki nilai sosial budaya juga memiliki nilai ekonomis sebagai salah satu sumber pendapatan peternak sekaligus sekaligus sumber pendapatan daerah melalui perdagangan antar pulau. Akan tetapi akhir-akhir ini populasi ternak besar cenderung menurun baik karena perdagangan antar pulau, maupun urusan sosial budaya antar daerah dalam pulau Sumba serta terjadinya kekurangan pakan pada saat musim kemarau akibat degradasi lingkungan.

Pembangunan peternakan di Nusa Tenggara Timur khususnya kabupaten Sumba Timur dihadapkan pada berbagai masalah dasar yang membutuhkan penanganan secara bertahap. Usaha meningkatkan produksi peternakan agar pendapatan dapat meningkat dalam rangka memperbaiki kesejahteraan petani peternak secara nyata dan stabil, tidak saja berhadapan dengan masalah teknis tetapi juga masalah social ekonomi dan pengelolaan pembangunan itu sendiri. Salah satu masalah dan tantangan yang masih akan dihadapi adalah aspek pengembangan dan penggunaan sarana produksi. Bibit ternak merupakan salah satu sarana produksi terpenting dari pembudidayaan ternak dalam rangka mengembangkan usaha peternakan. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa melalui perbenihan dan perbibitan yang tangguh akan berdampak pada terwujudnya usaha budidaya yang berdaya saing dan produktif.

Dengan adanya usaha perbaikan bibit ternak, maka upaya untuk meningkatkan populasi, produksi dan nilai tambah produk-produk peternakan akan semakin terbuka. Sebab disadari bahwa pembangunan peternakan memiliki nilai yang penting dalam ketahanan pangan dalam upaya mencerdaskan Sumber Daya Manusia. Fungsi protein hewani sangat menentukan dalam mencerdaskan manusia, karena kandungan asam aminonya tidak tergantikan sehingga dapat dikatakan bahwa protein hewani  mampu menjadi agen pembangunan.

Jenis – jenis ternak yang saat ini di usahakan di Sumba Timur antara lain: Sapi, Kerbau, Kuda, Kambing Domba dan Babi. Selain ternak besar masyarakat juga memelihara ternak kecil seperti unggas yaitu Ayam Kampung, Ayam Pedaging dan Ayam Petelur

 

PERTERNAKAN

 

Pertambangan , Energi & Lingkungan Hidup

Pertambangan dan Energi

Energi dan Sumber Daya Mineral

Energi adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera. Energi alam bisa terdapat dimana saja seperti di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara dan lain sebagainya. Dalam pembangunan suatu daerah (kota), maka energi memiliki peranan yang sangat penting untuk menggerakkan segala aktivitas perekonomian di suatu daerah.

Di sisi lain, selain memiliki manfaat yang sangat signifikan di dalam sendi- sendi kehidupan dan perekonomian, energi juga harus dimanfaatkan serta dikelola dengan bijak, karena energi juga memiliki efek yang kurang baik. Salah satunya adalah polusi dan berkurangnya sumber energi yang ada di perut bumi jika dipakai terus menerus.

Beberapa sasaran kebijakan yang secara rinci diatur dalam Perpres Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yaitu terwujudnya elastisitas energi di bawah 1 pada tahun 2025 dan pengurangan porsi BBM dalam komposisi energi primer hingga 20 persen dan optimalisasi bahan bakar batubara dan gas masing-masing lebih dari 33 persen dan 30 persen, serta sisanya dengan menumbuhkan sumber energi baru terbarukan (EBT). Untuk mencapai sasaran tersebut, terdapat dua kebijakan, yaitu (i) kebijakan utama yang mengatur penyediaan, pemanfaatan, kebijakan harga dan konservasi alam; dan (ii) kebijakan pendukung, yang mengarah kepada pengembangan infrastruktur, kemitraan pemerintah dan swasta, serta pemberdayaan masyarakat.

Salah satu kebijakan di bidang energi yang ada di Kabupaten Sumba Timur adalah pemanfaatan energi terbarukan dengan pemanfaatan energi listrik bagi kebutuhan rumah tangga. Sumba Timur adalah wilayah yang memiliki cukup banyak potensi energi terbarukan, seperti Sumber Daya Air, Tenaga Angin, Matahari dan berbagai potensi energi terbaru yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat. Oleh karena Pemerintah Pusat saat ini menempatkan Pulau Sumba Timur sebagai Sumba Iconic Island dengan orientasi pemanfaatan energi baru terbarukan, baik untuk penerangan rumah tangga maupun dalam mendukug usaha masyarakat. Pemanfaatan energi baru terbarukan tersebut dengan mendukung peningkatan Rasio elektrifikasi di Kabupaten Sumba Timur, karena telah banyak daerah-daerah pedesaan yang ada telah mendapatkan akses listrik dengan kapasitas yang memadai. Data Kelistrikan di Sumba Timur dapat diikuti dalam tabel berikut:

Perkembangan Kelistrikan di Sumba Timur Tahun 2020

No

Kecamatan

Jumlah rumah

Total berlistrik

Belum berlistrik

1.

Kota Waingapu

5.100

5.258

1.230

2.

Pandawai

897

1.106

2.217

3.

Matawai Lapawu

312

480

816

4.

Kahaungu Eti

26

557

1.301

5.

Karera

494

632

1.242

6.

Rindi

566

732

1.242

7.

Pahunga Lodu

878

987

1.925

8.

Wula Waijelu

654

854

778

9.

Paberiwai

197

309

999

10.

Haharu

354

550

851

11.

Tabundung

94

356

1.642

12.

Umalulu

1.184

1.474

2.061

13.

Nggaha Ori Angu

315

512

1.479

14.

Lewa

610

895

2.418

15.

Pinu Pahar

357

581

1.026

16.

Kanatang

274

337

1534

17.

Kambata Mapambuhang

102

269

564

18.

Kambera

4.435

4.724

1.625

19.

Lewa Tidahu

97

377

1.083

20.

Mahu

-

80

1.004

21.

Ngadu Ngala

280

381

823

22.

Katala Hamulingu

223

362

502

Sumber : Sumba Timur Dalam Angka, 2021

Bardasarkan data kelistrikan yang tercantum dalam tabel di atas dapat dlihat bahwa penduduk Sumba Timur yang masih belum memiliki akses terhadap sumberdaya listrik masih cukup banyak. Hal tersebut tentunya bukan semata menjadi Tanggung Jawab PLN sebagai Perusahan Listrik Negara yang juga memiliki keterbatasan, baik sumber daya maupun penganggaran namun menjadi tanggung semua pihak untuk memberikan perhatian terhadap akses tenaga listrik bagi penduduk Kabupaten Sumba Timur. Dengan demikian kebijakan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang diterapkan di Kabupaten Sumba Timur menjadi alternatif solusi yang dapat diambil dan didukung agar seluruh masyarakat Sumba Timur dapat memperoleh akses penerangan yang memadai, baik yag dilayani oleh Perusahan Listrik Negara maupun yang difasilitasi oleh Kementerian ESDM dengan Energi Baru Terbarukan (EBT).